Weekly Perspective - W5 May 2018

The Recent Market Dynamics : Noise at The Market

Dinamika pasar modal masih penuh gejolak dengan berbagai issue global.

  • Sentimen pasar dengan  tarik ulur rencana kenaikan tarif atas produk impor dari China, menjelang tahap kedua dari negosiasi yang akan berlangsung antara AS-China. Belum lagi, maju mundurnya pertemuan antara AS dengan Korea Utara pada bulan Juni 2018 mendatang.
  • Dari Benua Eropa, dominasi politik kelompok anti Uni Eropa yang semakin kuat di Italia, dapat mendorong kemungkinan early election di semester kedua /2018 atau awal tahun 2019. Hal ini juga menimbulkan ketidakpastian di pasar bahwa risiko politik dapat membawa zona Eropa kembali tertekan seperti yang dialami tahun 2011/2012.
  • Penurunan harga minyak yang cukup signifikan dari USD 79/barrel menjadi USD 75/barrel, menjelang pertemuan OPEC yang akan berlangsung bulan Juni 2018 mendatang. Dimana rally harga minyak dunia mendorong timbulnya wacana OPEC akan kembali meningkatkan volume produksi minyak dari pemotongan volume produksi yang disepakati pada tahun 2017 lalu.
  • Ekspektasi pasar akan kenaikan bunga The Fed dari 4x menjadi 3x. Dengan kembali meredanya ekspektasi inflasi AS setelah harga minyak mengalami penurunan dan negara utama didunia seperti Jepang dan Eropa masih mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif, maka akan sulit bagi The Fed untuk melanjutkan kenaikan bunganya secara agresif. Walaupun kenaikan bunga The Fed diestimasi tetap akan terjadi di bulan Juni 2018 mendatang sebesar 25 bps.

Dengan penurunan harga minyak dunia dan juga penurunan ekspektasi kenaikan bunga The Fed, maka yield US Treasury turut mengalami penurunan dari level peak 3,11% menjadi 2,81% untuk tenor 10 tahun. Hal ini mengindikasikan suatu hal yang positif di pasar, sehingga turut mendorong rebound (kenaikan) harga di pasar saham di Indonesia. IHSG selama 1 minggu terakhir, mengalami kenaikan sebesar +3,3% dari level 5.783 menjadi 5.975. Selama 4 hari berturut-turut hingga 28 Mei 2018, investor asing mencatatkan net buy dengan akumulasi sebesar Rp 2,5 Triliun. Adapun pada pasar obligasi, selama 1 minggu terakhir masih mencatatkan penurunan harga sebesar -1,1% dengan pergerakan yield SUN tenor 10 tahun menyentuh 7,6%. Namun pada awal minggu ini, yield SUN sudah mengalami penurunan kembali ke level 7,14%. Hal ini seiring dengan penurunan yield US Treasury ke level 2,8% juga disebabkan optimisme pasar akan langkah intervensi yang diambil Perry Warjiyo, Gubernur Bank Sentral Bank Indonesia yang baru dilantik Mei 2018 ini dalam mempertahankan mata uang Rupiah. Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia baik di pasar uang dan pasar obligasi, berhasil membawa Rupiah menguat dari Rp 14.153/USD menjadi Rp 13.985/USD. 


Market Expectation

Segala noise yang terjadi di pasar global, dinamika dan volatilitasnya akan selalu ada. Dengan begitu besarnya tekanan risiko di pasar global maka peran Pemerintah dan Bank Indonesia menjadi sangat penting untuk menjaga dan mempertahankan stabilitas makro ekonomi. BI sendiri tidak tinggal diam, selama bulan Mei 2018 ini sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada 17 Mei 2018 lalu dari 4,25% menjadi 4,5%. Selanjutnya, BI juga langsung menggelar Rapat Dewan Gubernur BI pada tanggal 30 Mei 2018 dan kembali memutuskan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Kenaikan bunga acuan sebanyak 2x selama bulan Mei 2018 ini sebagai upaya menahan capital outflow. Kebijakan moneter lainnya yang dilakukan dengan secara agresif melakukan intervensi di pasar obligasi dan money market. Selain itu koordinasi intens juga terus dilakukan antara Pemerintah dan Bank Indonesia sebagai upaya dalam crisis management. Dengan berbagai langkah ini maka mata uang Rupiah yang sempat mengalami pelemahan hingga ke level Rp 14.150/USD, kembali menguat dibawah Rp 14.000/USD.

Dengan tone yang lebih positif akan stabilitas makro dan volatilitas Rupiah ini maka terlihat rebound di pasar saham yang sudah terjadi dalam 1 minggu terakhir. IHSG bergerak dari level terendahnya dibawah 5,700 dan kembali menembus diatas 6.000 hanya dalam 4 hari terakhir. Namun rebound ini kami estimasi sifatnya masih temporary mengingat tekanan risiko pasar global masih cukup tinggi. Selain itu defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) diestimasi masih melebar untuk QQ2 / 2018 dan terakhir faktor risiko yang juga akan semakin meningkat pada semester 2 tahun 2018 terkait risiko politik baik dari AS (pemilihan senat), Italia, dan Pilkada serta menjelang Pemilihan Umum Presiden tahun 2019.

Pada kondisi pasar saat ini, dimana volatilitas dan ketidakpastian pasar masih cukup tinggi. Namun dibalik setiap penurunan/koreksi yang signifian terdapat sebuah peluang. Setelah sebelumnya kita sudah meningkatkan alokasi asset secara bertahap untuk menangkap peluang kenaikan harga saham, maka kita dapat kembali melakukan profit taking. Alokasi aset pada Reksadana saham tetap dikelola secara defensif.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list