Weekly Perspective - W4 May 2018

The Recent Market Dynamics : Meredanya Trade War & Kenaikan Harga Minyak

Setelah mengalami negosiasi yang cukup Panjang, hari Sabtu (19 May 2018), akhirnya Pemerintah AS dan China mengeluarkan statement dimana China berkomitmen untuk meningkatkan impor dari AS khususnya terkait energi dan produkagri, sehingga diharapkan dapat mengurangi trade deficit dengan AS yang pada tahun 2017 mencapai USD 375 miliar. Peningkatan impor ini seiring pertumbuhan kebutuhan konsumsi dari China. Dengan kesepakatan ini maka kenaikan tarif impor di estimasi mengalami penundaan. Namun meredanya risiko trade war tidak berlangsung lama, dengan statement terbaru dari Trump yang menyatakan belum puasdengan hasil negosiasi tersebut. 
Disisi lain, harga minyak dunia terus bertahan dan mengalami kenaikan 5,1% selama month to date (mtd per 18 Mei 2018) hinggake level USD 78,5 / barrel. Kenaikan harga minyak dunia ini lebih disebabkan factor suplai, dimana pemotongan produksi dari OPEC memberikan kontribusi kenaikan harga, ditambah dengan risiko geopolitik (embargo yang di alami negara-negara produsen minyak seperti Rusia dan Iran). Dengan kenaikan harga minyak dunia, harga berbagai komoditas lainnya juga turut mengalami kenaikan. Harga batu bara naik 11,0% mtd menjadi USD 108,3 / mt. Harga LPG naik 2,7% mtd menjadi USD 162,2 / gallon. Harga nikel naik 8,0% mtd menjadi USD 14.688/mt. Harga CPO juga turut mengalami kenaikan 2,2% mtd menjadi MYR 2.400/mt 
Kedua faktor utama di atas tentunya mewarnai pergerakan pasar global. Penundaan kenaikan tarif impor diestimasi akan meredam inflation expectation dan mendorong penurunan yield US Treasury dari level 3,12% menjadi 3,07% untuk tenor 10 tahun. Sebaliknya kenaikan harga minyak dan komoditas utama dunia, masih akan mendorong kenaikan inflation expectation. Dollar index masih mencatatkan kenaikan hingga 4,7% sejak pertengahan April 2018.
Bagaimana pengaruhnya pada pasar modal Indonesia? Selama 1 mingguterakhir, IHSG mengalami koreksi sebesar -2,9%. Secara sektoral, koreksi terbesar terjadi pada sector aneka industri -6,1% diikuti dngan sektor Banking -4,9% dan Consumer -4,6%. Adapun sektor mining malah mencatatkan kenaikan +5,1% didorong kenaikan harga batu bara dan harga metal mining lainnya. Investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 7,5 Triliun secara mtd hingga 18 Mei 2018.
Pada pasar obligasi, koreksi harga obligasi masih berlanjut dengan penurunan sebesar -0.18% dalam 1 minggu terakhir sehingga akumulasi secara mtd, harga obligasi yang diwakili dengan abtrindo bond index sudah mengalami penurunan sebesar -2,0%. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 17,6 Triliun selama mtd (18 Mei 2018). Saat ini level yield SUN mengalami kenaikan ke level 7,6% untuk tenor 10 tahun.  Pada lelang SUN yang berlangsung hari Selasa (22 Mei 2018) lalu, total bids mengalami peningkatan yakni sebesarRp 31,5 Triliun, dibandingkan lelang SUN sebelumnya dengan total bid yang masuk hanya sebesar Rp 7,2 Triliun. Demand terbesar masuk pada seri FR64 (tenor 10 tahun) dengan nilai Rp 14,3 Triliun. Pemerintah memenangkan Rp 15 Triliun dengan yield rata-rata 7,467% untuk FR64 (10 tahun) dan 7,919% untuk FR65 (15 tahun). Hingga lelang minggu ini, Pemerintah sudah menerbitkan Rp 412 triliun (gross) atau lebih dari 48% dari target FY2018 dengan asumsi budget deficit sebesar 2,1% terhadap PDB.


Market expectation

IHSG sudah mengalami penurunan tajam –8,2% secara ytd menyentuh level 5.783 (valuasi PE ratio 14,8x est 2018 pada kisaran -2 Stdev). Adapun pada pasar SUN, yield untuk tenor 10 tahun sudah menyentuh level 7,6%, level yang setara dengan koreksi pada Nov 2016 dan sebelum upgrade rating S&P. Kami melihat risiko pasar global masih cukup besar. Dari ketidakpastian trade war dan ketidakpastian akan konflik antara AS dengan Korea Utara yang kembali meningkat. Selain itu pada tanggal 23 Mei 2018 malam akan dirilis minutes meeting The Fed, yang dapat memperkuat potensi kenaikan bunga The Fed pada pertemuan bulan Juni 2018 mendatang.
Dari pasar domestik, Bank Indonesia sudah menaikan suku bunga acuan 7 day reverse repo sebesar 25 bps menjadi 4,5%. BI masih dapat menaikan suku bunga acuan seiring perkembangan volatilitas Rupiah. Intervensi BI juga terus dilakukan untuk menjaga volatilitas pelemahan Rupiah. Namun sentiment negative masih dating dari dalam negeri yang turut menghambat rebound di pasar saham dan obligasi. Dimana Bank Indonesia menyatakan bahwa deficit transaksi berjalan (Current Account Deficit) di estimasi melebar menjadi USD 28 Miliar di 2018 atau setara dengan -2,3% terhadap PDB, dibandingkan deficit tahun 2017 sebesar USD 17,3 Miliar atau -1,7% terhadap PDB. Melebarnya deficit ini didorong peningkatan impor baik impor minyak, bahan konsumsi menjelang lebaran dan meningkatnya aktivitas investasi dan produksi.
Pada kondisi pasar saatini, dimana volatilitas dan ketidakpastian pasar masihcukuptinggi. Namun dibalik setiap penurunan / koreksi yang signifikan terdapat sebuah peluang.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list