Weekly Perspective - W3 April 2018

Trade War to Geopolitical Risk & Investment Restriction …

  • Suasana ketegangan trade war mulai berkurang. Meredanya ketegangan trade war, setelah Trump menyatakan pemerintahnya akan melakukan perundingan dengan China. Selain itu, President China, Xi Jinping dalam pidatonya di Boao Forum, menyatakan akan lebih membuka ekonomi China. Hal ini turut mengurangi sentiment sengketa perdagangan dengan AS. Terlihat pasar saham mengalami peningkatan di pimpin indeks Nikkei +4,7%, Euro Stoxx +3,8% dan indeks S&P500 +2,6% secara mtd hingga 18 April 2018. IHSG juga mengalami kenaikan sebesar 2,1% (29 Maret – 18 April 2018).Namun kenaikan ini lebih didorong ekspektasi positif dari pelaku pasar domestik, karena investor asing masih mencatatkan net sell sebesarRp 4,3 Triliun.
  • Pada pasar obligasi, harga Surat Utang Negara (SUN) yang diwakili dengan Abtrindo Index mencatatkan kenaikan sebesar 0,84%. Yield SUN bergerak tipis pada level 6,63% per 18 April 2018 untuk tenor 10 tahun. Penguatan harga obligasi dinilai belum signifikan, walaupun Lembaa rating Moody’s menaikkan peringkat hutang Indonesia dari Baa3 menjadi Baa2 dengan outlook positif. Nampaknya sentimen pasar global masih membuat pelaku pasar cenderung wait & see. Investor asing kembali mencatatkan net buy sebesar Rp 12,2 Triliun secara mtd hingga 18 April 2018.
  • Sentimen global yang cukup mempengaruhi pergerakan pasar, diantaranya kembali meningkatnya risiko geopolitik setelah sekutu AS-Inggris-Perancis melakukan serangan udara terhadap Syria di kawasan yang dianggap sebagai tempat produksi senjata kimia. Hal tersebut memicu kenaikan harga minyak yang kini berada di level USD69,4/barrel. Ditambah dengan penurunan inventory minyak di AS, yang turut memperkuat kenaikan harga minyak. Sentimen kedua dating dari sanksi yang diberikan AS terhadap United Co Rusal, yang dikhawatirkan mempengaruhi supply disruption di pasar metal. Hal ini mendorong kenaikan harga aluminium dan nikel masing-masing hingga 7,1% dan 5,4%.
  • Setelah risiko geopolitik, sentimen trade war kembali muncul. Upaya Trump memberikan penalty atas praktek dagang China yang dinilai tidak fair, berlanjut dengan ancaman Trump yang mempertimbangkan akan menggunakan emergency law untuk membatasi investasi perusahaan China pada perusahaan AS yang terkait teknologi. US Treasury Dept sedang melakukan perundingan internal dengan estimasi batas waktu hingga 21 Mei 2018. Serangkaian event ini tentunya kembali mendorong meningkatnya risiko dan ekspektasi inflasi AS. Yield US Treasury mencatatkan kenaikan, menyentuh level 2,91% dan penguatan Dollar Index. Mata uang Rupiah mengalami pelemahan dariRp 13.745/USD menjadi Rp 13.818/USD.


Impact to Domestic Macro Economy …

  • Dari domestik, neraca perdagangan bulan Maret 2018 mengalami surplus USD 1,1 miliar didorong kenaikan ekspor komoditas khususnya batu bara mencapai USD 300 juta. Adapun pertumbuhan impor barang konsumsi relative melambat (-9,9% yoy untuk periode Maret 2018, dibandingkan +55% yoy untuk periode Februari 2018). Secara akumulasi selama QQ1/2018, neraca perdagangan mencatatkan surplus 283 juta, sehingga di estimasi Current Account Deficit (CAD) masih cukup terkendali dalam range -2,2 s/d -2,4% terhadap PDB.
  • Adapun dari sisi deficit fiskal juga baru mencapai 0,58% terhadap PDB (per Maret 2018), dibawah periode tahun lalu Maret 2017 sebesar -0,76% terhadap PDB. Belanja Negara baru mengalami kenaikan sebesar 4,9% yoy, dibawah pertumbuhan dari pendapatan negara yang mengalami kenaikan hingga 12,7% yoy. Kenaikan pendapatan khususnya di dorong dari non tax revenue mencapai Rp 71,1 Triliun per Maret 2018 (+22.2% yoy).
  • Selanjutnya, kita perlu mengamati risiko trade war dan meningkatnya harga minyak dunia. Mengingat trend kenaikan harga minyak dan pelemahan Rupiah/USD, dapat mendorong laju inflasi Indonesia, deficit fiscal dan Current Account Deficit (CAD). 
  • Selain risiko pasar global, risiko dari dalam negeri yang perlu diamati adalah risiko politik dalam negeri serta intervensi Pemerintah untuk mengamankan posisinya menjelang Pemilihan Umum Presiden yang akan berlangsung tahun 2019 nanti. Intervensi tersebut sudah terlihat dari upaya Pemerintah untuk menahan laju inflasi dengan menjaga kenaikan BBM, listrik, tarif tol dan harga makanan pokok.


Market expectation

  • Risiko pasar global khususnya terkait geopolitik dan perang dagang (trade war) antara AS dan China masih akan mewarnai sentimen di pasar dalam beberapa bulan kedepan. Selain itu, risiko politik domestik (government willingness) juga akan meningkat dalam beberapa bulan kedepan. Setelah mengalami rebound dalam minggu 1-3 di bulan April 2018, kecenderungan pasar kembali koreksi. Adapun factor pembagian dividen, rilis keuangan QQ1/2018 dan kenaikan konsumsi (seasonality menjelang puasa lebaran dan Pilkada) masih akan menopang pergerakan pasar.


DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list